shaza lastfriiend's (kerabat k0T4k)

Just another WordPress.com site

PEMBAGIAN TAUHID

pada 17 November 2011

PEMBAGIAN ILMU TAUHID

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah Ta’ala dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan dan Maha kuasa atas segala sesuatu. Hal ini wajib diimani oleh setiap muslim.

Allah ta’ala berfirman (QS. Al-Fatihah, 2):

Artinya: Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”.

Maksudnya  Keyakinan hamba bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan seluruh ciptaan ini dengan sendiri, dan pengakuan bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang mengatur semua ciptaan ini, Yang memiliki alam semesta, Yang menghidupkan seluruh kehidupan dan Yang mematikan seluruh kematian.

Termasuk dalam Tauhid Rububiyah adalah iman dan Qadla’ dan Qadarnya. Maka Tauhid Rububiyah merupakan landasan awal dari Tauhid-tauhid yang lain.

Tauhid rububiyah yaitu mengesakan Allah SWT dalam segala perbuatan-Nya dgn meyakini bahwa Dia sendiri yg menciptakan segenap makhluk. Allah SWT berfirman Allah menciptakan segala sesuatu. {Q.S. Az-Zumar 62}.

“Artinya : Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”.

Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri.

Dialah penguasa alam dan pengatur semesta Dia yg mengangkat dan menurunkan Dia Yang memuliakan dan menghinakan Mahakuasa atas segala sesuatu Yang mengatur rotasi siang dan malam Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Allah SWT berfirman Katakanlah ‘Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.

Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.

Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rezeki. Inilah ciptaan Allah maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan selain Allah swt atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya.

Allah menyatakan pula tentang keesaan-Nya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu Dia bersemeyam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan matahari bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah Tuhan semesta alam.

Allah ta’ala juga berfirman: ( Q.S Yunus, 31 )

Artinya: Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”

Kaum musyrikin mengakui bahwa Allahlah yang telah menciptakan Alam ini dan mengaturnya, sehingga mereka dikatakan memilki tauhid rububiyah tetapi mereka tidak dikatakan beriman karena mengingkari tauhid Uluhiyah.

Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah Artinya, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (minta pertolongan), isthighotsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah.

Sebagian ulama mendefinisikan Tauhid Uluhiyah sebagai puncak rasa cinta dan keta’atan kepada Allah. Dengan Tauhid Uluhiyah ini seorang hamba bisa disebut muslim, karena telah melaksanakan perintah-perintah agama, yaitu ibadah. Maka bisa dikatakan bahwa bentuk lahir dari Tauhid Uluhiyah adalah menjalankan rukun-rukun Islam. Seorang hamba bisa saja telah mencapai Tauhid Rububiyah, namun belum mencapai Tauhid Uluhiyah, seperti seseorang yang telah mempercayai keberadaan Allah namun belum mau menegakkan rukun-rukun Islam.Hal ini sebagaimana firman Allah (QS. Al Imran: 18)

Artinya: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti salat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy.

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai perkataan mereka itu dalam (QS. Shaad: 5)

 “Artinya: mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”.

Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Allah semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Allah dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bukti bahwa Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: (Al-Fur-qaan: 3)

“Artinya :Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengam-bil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.”

TAUHID ASMA’ WA SIFAT

   Tauhid  Asma’ wa Sifat yaitu kepercayaan bahwa Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna, dengan mengakui dan mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an dan yang diceritakan oleh Nabinya Muhammad s.a.w. Tauhid Asma’ Sifat lebih merupakan persepsi hamba terhadap Tuhannya dengan pengakuan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Sempurna. Iman kepada Asma’ul Husna adalah

termasuk dalam Tauhid ini. Sebagaimana firman-Nya (Al-Hasyr: 24)

Artinya :Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.

Tauhid ini mengandung dua rukun penting:

  1. Penetapan, yang dimaksud adalah menetapkan bagi Allah Ta’ala seluruh nama dan sifat-Nya. Maka tidaklah kita menetapkan nama bagi Allah Ta’ala kecuali dengan nama yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula tidaklah kita menetapkan sifat bagi Allah Ta’ala kecuali dengan sifat yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Peniadaan, yang dimaksud adalah meniadakan dari Allah Ta’ala seluruh nama dan sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Termasuk di dalamnya, meniadakan semua penyerupaan dengan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk.
    Barangsiapa tidak mau menetapkan bagi Allah Ta’ala sesuatu yang sudah Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya berarti dia mu’aththil (seorang penolak) dan penolakannya serupa dengan penolakan Fir’aun. Sebab seorang yang tidak mau menetapkan nama dan sifat bagi Allah Ta’ala berarti dia telah meniadakan Allah Ta’ala sebagaimana Fir’aun yang tidak mengimani keberadaan Allah Ta’ala. Demikian pula barangsiapa yang mau menetapkan saja tapi dia menyerupakan nama dan sifat Allah tersebut dengan nama dan sifat makhluk berarti dia menyamai kaum musyrikin yang mengibadahi selain Allah Ta’ala. Sebab seorang yang menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan sesuatu yang ada pada makhluk, pada hakikatnya dia mengibadahi sesuatu selain Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan barangsiapa yang menetapkan sesuatu yang sudah Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakannya dengan makhluk maka berarti dia seorang muwahhid (seorang yang bertauhid).
    Kedua rukun ini berlandaskan pada dalil syariat dan akal.

Adapun dalil dari syariat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala(Al-A’raf:180)

180. hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, (An-Nahl: 74)

 Artinya :Maka janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Sedangkan dalil dari logika yaitu kita mengatakan bahwa berbicara tentang nama dan sifat Allah Ta’ala termasuk pemberitaan yang tak mungkin akal kita mampu untuk mengetahui rinciannya tanpa tuntunan wahyu. Oleh karena itu, seharusnya kita mencukupkan diri dengan setiap yang diberitakan oleh wahyu saja dan tidak melampauinya.

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.

Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

TAUHID ASMA’ WA SIFAT ADALAH SEPARUH BAB IMAN KEPADA ALLAH

Bagi seorang muslim, sungguh sangat jelas pentingnya iman kepada Allah. Karena, rukun tersebut merupakan rukun iman pertama, bahkan terbesar. Rukun-rukun selainnya mengikut kepadanya dan cabang dari padanya. Itulah tujuan diciptakan makhluk, diturunkan kitab-kitab, diutus dan rasul-rasul, serta agama ini dibangun di atasnya. Jadi, iman kepada Allah merupakan asas segala kebajikan dan sumber hidayah serta sebab segala kebahagiaan.
Yang demikian itu, karena manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan dipelihara, segala ilmu dan amalnya kembali (tergantung) kepada pencipta dan pemeliharanya. DariNya-lah petunjuk, untukNya beramal, dan kepadaNya akan dikembalikan. Manusia tidak bisa bebas dariNya. Berpaling dariNya, berarti kebinasaan dan kehancuran itu sendiri.

Seorang hamba tidak akan mendapat kebaikan dan tidak pula kebahagiaan, kecuali dengan mengenal Rabb-nya dan beribadah kepadaNya. Bila ia melakukan yang demikian itu, maka itulah puncak yang dikehendakiNya, yaitu untukNya ia diciptakan. Adapun selain itu, mungkin suatu yang utama dan bermanfaat, atau keutamaan yang tidak ada manfaatnya, atau suatu tambahan yang membahayakan. Oleh karena itulah, dakwah para rasul kepada ummatnya adalah (menyeru) untuk beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya.

BY: HENY INDRIASTUTI RIZA FAUZI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: